REFLEKSI MAULID NABI 1431 H
Memaknai Peringatan Maulid Nabi. Sebuah peringatan ada, tidak hanya untuk sekadar memperingati dalam arti mengetahui dan mengenang. Tetapi dalam tingkat yang lebih tinggi, menjadi sebuah peringatan dalam arti mengerti akan tanda yang lebih besar. Memperingati maulid Nabi seharusnya diisi dengan kenangan akan sejarah perjuangan beliau dalam menyebarkan Islam. Bukan sekadar untuk menunjukkan bahwa kita punya Nabi besar yang terus diletakkan di tempat yang tinggi sebagai manusia yang sempurna tanpa pernah berusaha meneladaninya dan mempelajari ajarannya lebih historis dengan melihat sisi kemanusiaannya (basyariyyah).
Dalam peringatan maulid, biasanya banyak umat muslim yang mengadakan pembacaan kitab maulid dan shalawat. Ada yang membaca maulid al-Barzanji, dan sebagainya. Dalam kitab-kitab maulid tersebut, jelas diterangkan tentang sejarah Nabi dari mulai lahir sampai hal-hal, kecil yang menjadi keteladanan beliau. Sayangnya, banyak umat muslim saat ini membaca kitab-kitab maulid itu tanpa tahu artinya. Barangkali, banyak yang mengira bahwa yang penting adalah niatnya, yakni untuk memuji Nabi, menyatakan cinta pada beliau, dan mengharap syafaatnya. Adapun mengerti isi dari kitab maulid itu adalah nomor dua. Praktis, pembacaan maulid sebagai sebuah peringatan hanya menjadi rutinitas belaka.
Sangat disayangkan bila hal yang terakhir inilah yang benar-benar terjadi dalam tubuh umat Islam saat ini. Maulid Nabi yang seharusnya menjadi momentum untuk kembali ‘menerjemahkan’ ajaran-ajaran Nabi dalam konteks zaman modern menjadi hal-hal yang realitanya banyak diabaikan. Padahal meneruskan ajaran beliau adalah kewajiban kita sebagai umat Islam, “alaikum bi sunnati, man raghiba ‘an sunnati fa laisa minni”, kata Nabi, “wajib bagi kalian mengamalkan sunnahku, barang siapa membenci (menghindari) sunnahku, maka bukan termasuk ummatku”. Hadits ini jelas sangat menekankan kita untuk senantiasa mengamalkan sunnah Nabi. Pernyataan ini tentu memberikan pemahaman, bahwa Nabi ada bukan untuk dikenang, melainkan juga untuk diteruskan ajarannya.
Fenomena yang kian merebak saat ini, yang menjadikan maulid Nabi hanya sekadar rutinitas belaka, hemat penulis, disebabkan setidaknya oleh tiga hal:
Pertama, umat Islam yang cenderung melihat hanya dari satu hadits saja, yaitu “yuhsyarul mar’u ma’a man ahabba” (seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya). Hal ini sekilas akan memberikan penafsiran bahwa dengan menyatakan cinta kepada Nabi, kita akan bersama beliau di akhirat nanti. Namun, sesungguhnya cinta butuh aktualisasi, bukan sekadar pengungkapan di mulut. Allah berfirman: in kuntum tuhibbunallah fattabi’uni yuhbibkumullah, jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah akan mencintaimu. Dalam ayat ini, jelas kita ketahui bahwa cinta mengandung konsekuensi untuk mengamalkan ajaran beliau, bukan sekadar dikatakan. Hanyalah besar di mulut saja bila seseorang menyatakan cinta, namun enggan menaati orang yang dicintainya.
Kedua, kian redupnya nilai tawar peringatan maulid Nabi, karena kalah oleh budaya pop musik dengan berbagai genre. Peringatan maulid Nabi entah dengan mengadakan shalawat atau pengajian semakin sepi. Agaknya beberapa kalangan menilai, bahwa pengajian atau shalawatan adalah hal yang jadul (zaman dulu). Oleh karena itu, pengadaan peringatan maulid Nabi perlu diperbaharui. Misalnya dengan mengadakan kajian yang lebih menekankan pada sejarah perjuangan Nabi dan lebih kontekstual dengan zaman sekarang. Atau dengan penyajian shalawat dengan gaya musik yang lebih berwarna. Dalam tataran ini, kehadiran maulid Simtud-Durar), yang dalam beberapa tahun terakhir kian menarik minat masyarakat, patut diapresiasi.
Ketiga, “pencitraan” terhadap Nabi terlalu melangit. Maksudnya, Nabi digambarkan sebagai sosok yang benar-benar sempurna (insan kamil) sehingga ia tidak ‘membumi’, dan hanya menjadi bagian apologi masyarakat untuk tidak meneladaninya. Pengungkapan ‘citra’ Nabi yang hanya menampilkan keistimewaan (khashaish) beliau dibanding nabi-nabi yang lain akan menyebabkan gambaran Nabi yang sulit untuk diteladani. Akan lebih baik tentunya, bila kita menampilkan Nabi sebagai seorang manusia yang, secara historis, kebijakan beliau dalam memimpin masyarakat bisa dipelajari. Ini tidak berarti merendahkan kemuliaan Nabi, karena kita meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah manusia, namun tetap bukan manusia biasa (Muhammadun basyar la kal-basyari).
Dari ketidaktahuan akan ajaran yang lebih menyentuh ini, masyarakat banyak yang kurang memberikan apresiasi tinggi. Karena mereka menilai dari apa yang tampak secara empiris dalam kehidupan masyarakat. Apalagi dengan budaya pragmatis yang kian menjangkiti umat, jangan-jangan maulid Nabi pun dihitung ada nilai manfaatnya atau tidak.
Ketiga hal di atas sebaiknya kita carikan solusinya. Sudah menjadi kewajiban umat muslim untuk melestarikan sunnah Nabi. Adalah hal yang menjadi tugas kita untuk kembali menghidupkan maulid Nabi, tidak hanya dalam perkataan dalam ritual rutin peringatan, melainkan mengontekstualisasikan ajaran Nabi dalam kehidupan modern ini. Karena, peringatan yang sebenarnya, bukan sekadar bicara, namun perlu bukti. Allahumma shalli wa sallim wa barik’ala sayyidina Muhammad.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar