Sabda Nabi, " Seorang hamba dalam keadaan paling dekat kepada Tuhannya adalah ketika ia bersujud "
Minggu, 31 Januari 2010
Tarbiyah
Jalan ini adalah jalan tercepat, walau sebagian kaum muslimin merasakan kelambatannya dibanding jalan-jalan yang lain untuk mengembalikan ‘izzul Islam wal Muslimin’. Di dalam Tarbiyah ada mekanisme tawashau bil haq wa tawashau bish shabri. Ada nuansa silaturahim, dan yang penting ada aktivitas transfer ilmu dan pewarisan nilai. Dan ini tidak terjadi dalam aktivitas-aktivitas yang lain.
Sabtu, 30 Januari 2010
Mahabbatullah
Al Ghazali berkata :
Siapa yang mencintai selain Allah, bukan karena adanya keterkaitan kepada Allah, maka hal itu adalah karena kebodohan dan kekurangannya dalam mengenal Allah. Cinta kepada Rasulullah saw adalah terpuji karena cinta ini merupakan buah dari cinta Allah. Demikian pula cinta kepada ulama’ dan orang-orang yang bertaqwa, karena kekasihnya Kekasih adalah kekasih. Urusan Kekasih adalah kekasih, dan pecinta Kekasih adalah kekasih. Utusan Kekasih adalah kekasih. Semua itu terpulang kepada cinta utama lalu tidak melampauinya kepada yang lain. Dalam pandangan orang-orang yang memiliki bashirah, pada hakekatnya tidak ada yang berhak mendapatkan cinta kecuali Dia. Penjelasan ini terpulang kepada lima sebab yang semuanya berhimpun pada hak Allah dan tidak terdapat pada selain-Nya kecuali salah satunya saja diantara kelima sebab tersebut. Ia merupakan hakekat (benar-benar ada) dalam diri Allah sedangkan keberadaannya dalam diri selain-Nya hanyalah merupakan khayal yakni kiasan semata, tidak memiliki hakekat. Bila hal ini telah difahami dengan baik maka akan terungkaplah bagi setiap orang yang memiliki bashirah kebalikan dari apa yang dikhayalkan oleh orang-orang yang lemah akal dan hati yaitu mustahilnya cinta Allah secara hakiki. Dari sini juga menjadi jelas bahwa tahqiq (mencapai hakikat) itu mengharuskan agar kita tidak mencintai siapapun selain Allah ta’ala.
Rabu, 27 Januari 2010
Selasa, 26 Januari 2010
Islam & Iptek
Islam & Ilmu Pengetahuan
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum wr. wb.
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Nabi Muhammad, penghulu para mujahidin dan imam orang-orang yang bertaqwa, beserta keluarga, sahabat, dan semua orang yang berjuang membela syariatnya sampai hari kemudian.
Allah menciptakan manusia dengan tujuan untuk melaksanakan amanah yang akan diembannya selama di dunia, seperti terdapat dalam Al Ahzab: 72 “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya(berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.”
Adapu amanat yang diemban manusia ada dua yaitu,
1. tugas ibadah, seperti dalam Al Qur’anul Karim surat Adz Dzariyat: 56 “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”
2. kedudukan khalifah, seperti dalam Al Qur’anul Karim surat Al Baqoroh: 30 “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memujiMu dan menyucikan namaMu ?’ Dia berfirman, ‘Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Amanat yang diberikan Allah kepada manusia bukanlah amanat yang ringan tetapi amanat yang sangat berat sehingga apabila amanat ini diberikan kepada gunung niscaya gunung akan meledak karena amanat yang sangat berat ini, karena amanat ini juga Allah memberikan kelebihan kepada manusia yang tidak diberikannya kepada makhluk lainnya, yaitu Akal.
PENGHARGAAN ISLAM KEPADA AKAL
Islam membebaskan akal pikiran, menghimbaunya untuk melakukan telaah terhadap alam, mengangkat derajat ilmu dan ulamanya sekaligus, dan menyambut hadirnya segala sesuatu yang melahirkan maslahat dan manfaat. “Hikmah adalah barang hilang milik orang-orang yang beriman (mukmin). Barangsiapa mendapatkannya, ia dalah orang yang paling berhak atasnya.”
Asas aqidah Islam, sebagaimana keseluruhan hokum-hukum syara’, adalah kitab Allah dan Sunnah rasul-Nya. Kendati demikian, harus dipahami bahwa keseluruhan dari aqidah ini mendapat pembenaran dari akal dan dikukuhkan oleh analisa yang benar. Oleh karena itulah, Allah memuliakan akal dengan menjadikannya sebagai salah satu syarat pemikul beban syariat. Islam menjadikannya sebagai factor adanya kewajiban menjalankan agama dan memerintahkannya untuk selalu meneliti, menganalisa, dan berpikir, Allah swt. Berfirman dalam Yunus: 101 “Katakanlah, perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi, tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”
dan dalam surat Qaaf: 6 – 11 “Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya, dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun? dan Kami hamparkan bumu itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah), dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.
Pada saat yang sama Allah mencela mereka yang tidak berpikir dan tidak melihat (menganalisa).Allah berfirman dalam surat Yusuf: 105 “dan banyak sekali tanda-tanda kekuasaan Allah di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari-Nya”.
Allah juga menuntut kepada setiap penentang Islam agar mengeluarkan argumentasi, sehingga jelas mana yang benar dan mana yang batil. Ini sebagai satu penghargaan kepada argumentasi dan kemenangan akan hujjah yang nyata.
Tersebut dalam hadits bahwa Bilal sedang adzan shubuh. Tiba-tiba dilihatnya rasullah menangis, lalu ia bertanya kepada beliau tentang apa yang menyebabkan beliau menangis.
Rasullah saw. Bersabda, “Bagaimana engkau ini Bilal? Apa yang bisa menghalangiku menangis, sementara pada malam ini Allah menurunkan wahyu kepadaku, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanta bagi orang-orang yang berakal” (Ali Imran: 190)
Kemudian beliau bersabda, “Sungguh celaka bagi orang yang membacanya, tetapi tidak memikirkannya” (HR. Ibnu Abid Dunya dalam kitab At-Tafakkur)
Dari sinilah kita mengetahui bahwa Islam tidak menghalangi berpikir dan tidak memenjarakan akal, namun membimbingnya pada komitmen terhadap batas kemampuannya, menunjukkan kekerdilan ilmunya, dan menyuruhnya agar terus menambah pengetahuan.
AL QUR’AN & HAKIKAT-HAKIKAT ILMIAH
Meskipun Al Qur’anul Karim diturunkan bukan sebagai sebuah buku ilmiah yang menjelaskan berbagai hakikat alam, sebagaimana yang diuraikan oleh buku-buku khusus untuk itu, namun ia juga mengemukakan hokum-hukum ilmiah yang dapat mengantarkan ketakjuban manusia ketika itu, apalagi ketika ia mendengar penjelasan itu dari seorang nabi berkebangsaan Arab yang buta huruf.
Bagaimana mungkin ada kitab ajaib seperti ini di zaman kebodohan dan kegelapan ? Al Qur’an menjelaskannya kepada manusia seperti cahaya, dengan gaya bahasa yang merakyat dan halus sehingga bias dipahami dan dirasakan manfaatnya olrh orang awam. Ini merupakan keunikan yang tidak terdapat pada kitab sebelumnya dan tidak terdapat pula dalam kitab-kitab yang ada setelahnya.
Ketika membahas tentang alam semesta, Al Qur’an mengemukakan awal penciptaannya, beberapa fenomena alam, dan keadaan akhirnya. Al Qur’an menyinggung permulaan penciptaan langit dan bumi, fenomena matahari dan bulan, dan akhir dari alam semesta ini. Keterangan Al Qur’an tentang berbagai masalah ini tidak ada yang bertentangan dengan hakikat-hakikat ilmiah yang telah banyak diketahui oleh akal manusia, yang telah disingkap oleh para ahli ilmu alam melalui berbagai eksperimen mereka dengan menggunakan sarana-sarana modern yang tidak berhubungan sama sekali dengan wahyu..
Contoh lain adalah firman Allah swt. “Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kalian mengingat akan kebesaran Allah” (Adz-Dzariyat: 49)
Dan firmanNya yang lain “Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, ‘datanglah kalian berdua menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa’ keduanya menjawab,’Kami dating dengan suka hati.” (Fushilat: 11)
Ini sesuai dengan teori positif-negatif, di mana segala sesuatu terdiri dari keduanya. Karena itu, dalam segala hal harus ada yang positif dan ada pula yang negatif. Proses pembentukan seluruh mahhluk berdiri di atas teori ini. Demikianlah, kita melihat Al Qur’an telah menjelaskan asas seluruh alam semeta. Allah swt. Berfirman,”Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu, keduanya dahulu adalah sesuatu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya?’ (Al Anbiya: 30)
Ini tidak bertentangan dengan teori ilmiah yang mengatakan bahwa langit dan bumi berasal dari satu bahan baku. Al Qur’an hanya mengemukakan kaidah-kaidah umum yang bias diterima akal dalam setiap perkembangannya. Allah berfirman, “Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup.’ (Al Anbiya: 30). Seperti surat Ar-Rahman : 37 Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilauan) minyak.Ayat ini menurut teori Bigbang (ledakan besar), yaitu teori yang mengatakan bahwa asal muasal alam semesta yang tadinya berupa satu benda padat akhirnya meledak yang ledakannya itu serupa dengan bunga mawar mereh yang merekah dan berkilauan seperti munyak, pecahannya menjadi planet-planet dan bintang-bintang di berbagai galaksi
Fakta ilimiah yang tidak seorangpun membantahnya, Allah berfirman mengenai awal penciptaan manusia,’Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal0 dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan0 dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Alla, Pencipta yang paling baik.’(Al Mukminun:12 – 14)
Pembicaraan ini sudah memasuki bidang ilmu kedokteran, yang telah disaksikan oleh para ilmuwan dan tidak mungkin untuk ditentang oleh siapapun.
Ada beberapa fenomena alam yang ditegaskan dan dikemukakan oleh Al Qur’an, contohnya adalah proses terjadinya hujan yang bermula dari uap yang terbentuk karena panas matahari, kemudian digiring oleh angin. Ini tidak bertentangan dengan keterangan Al Qur’anul Karim,”Tidakkah kalian melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah oleh kalian hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran0 es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gimpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakanNya (butiran-butiran es) itu kepada siapa yang dikehendakiNya dan dipalingkanNya dari siapa yang dikehendakiNya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.’ (An Nur: 43)
Contoh lain adalah firman Allah,’Dan gunung-gunung sebagai pasak? (An Naba: 7)’Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak berguncang bersama kalian, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kalian mendapat petunjuk.” (An Nahl: 15) Karena sesungguhnya, gunung-gunung adalah pasak-pasak bumi yang menjaga agar bumi tidak bergerak sehingga airnya tumpah kedaratan.
Beberapa ayat-ayat AL Qur’an yang diturunkan 14 abad yang lalu banyak yang baru terbukti setelah sekian abad berlalu dari diturunkannya kepada Rasululllah, seperti dalam Al Qur’an surat Ar-Rahma: 33 “Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah, kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah)”. Ayat tersebut baru terbukti setelah manusia menemukan ruang angkasa dan pesawat terbang. Dengan pesawat Apollo bangsa Amerika dapat mencapai bulan dan dengan pesawat ulang alik manusia dapat melakukan perjalanan keruang angkasa dan kembali lagi kebumi itu pun masih ada beberapa yang mengalami kegagalan. Dengan teknologi eksplorasi minyak manusia dapat menembus bumi dan mengambil sebagian dari isi bumi untuk dimanfaatkan, semua itu menggunakan kekuatan akal hingga manusia dapat mengembangkan teknologi untuk mencapainya.
Ada sebuah sebuah kisah yang menarik dalam suatu seminar dokter ahli kulit, ada seorang dokter kafir dari negeri jepang yang akhirnya masuk islam setelah ia mendengarkan paparan seorang dokter muslim. Dalam paparannya dokter muslim tadi menukil sebuah ayat dalam AL Qur’an yang menyatakan bahwa orang yang masuk neraka akan disiksa oleh Allah hingga hancur seluruh tubuhnya kemudian disembuhkan lagi untuk disiksa lagi. Setelah sesi tanya jawab dokter kafir bertanya :”apakah betul Al Qur’an mengatakan begitu.” Dijawab oleh dokter muslim :”ya betul.” Akhirnya dokter kafir berkesimpulan Al Qur’an bukan ciptaan manusia pasti dari tuhannya manusia, karena rasa sakit itu hanya sebatas kulit, dan saat itu juga dokter kafir tersebut menyatakan diri masuk islam.
Al-Qur‘an telah mengungkap beberapa hal kadang secara rinci kadang pula cuma sebatas isarat yang akhirnya membuat manusia untuk bereksperimen dan membuktikannya. Dalam mengarahkan pandangan kepada hikmah-hikmah yang menakjubkan dan rahasia-rahasia alam yang tertinggi, hampir tiada satupun ayatNya, kecuali mengungkap anugerah dan nikmat-nikmat Allah, fenomena-fenomena kekuasaan dan hikmahNya, serta menganjurkan manusia agar senantiasa memperbarui pandangan dan kontinuitas dalam memikirkanya. Allah SWT. Berfirman,
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan kalian dari tanah, kemudian tiba-tiba kalian (menjadi) manusia yang berkembang biak. Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir . Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi serta berlainan bahasa dan warna kulit kalian . Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. Dan diantaranya tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidur kalian di waktu malam dan siang hari dan usaha kalian mencari sebagian karunia-Nya. Sesungguhnya terdapat tanda-tanda bagi kaumnya yang mendengarkan. Dan di antaranya tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepada kilat untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya .” (Ar-Rum:20-24)
Allah berfirman,
“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkanya di langit menurut yang di kehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang di kehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira. Dan sesungguhnya sebelum hujan di turunkan kepada nereka, mereka benar-benar telah berputus asa. Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Tuhan yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Ar-Rum:48-50)
Dan masih banyak lagi ayat yang senada dengan itu dalam surat Ar-Ra’d, Al-Qashash, Al-Anbiya’, An-Naml, Qaaf, dan yang lainnya dari surat-surat dalam Al-Qur’an.
AKHIR ALAM SEMESTA
Al Qur’anul Karim berbicara tentang akhir kehidupan di alam semesta,’(yaitu) pada hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit dan mereka semuanya (di padang mahsyar) berkumpul menghadap kehadirat Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa.’ (Ibrahim: 48)
Al Qur’an juga mengatakan,’Apabila terjadi hari kiamat. Terjadinya kiamat itu tidak didustakan. (Kejadian itu) menghinakan (satu golongan0 dan meninggikan (golongan lain). Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya. Dan gunung-gunung dihancurkanluluhkan sehancur-hancurnya. Maka jadilah dia debu yang beterbangan.’ (Al Waqiah: 1 – 6)
Al Qur’an juga mengatakan,’Apabila matahari digulung. Apabila bintang-bintang berjatuhan. Apabila gunung-gunung dihancurkan. Apabila unta-unta bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan). Apabila binatang-binatang liar dikumpulkan. Apabila lautan dipanaskan. Apabila ruh-ruh dipertemukan …’ (At Takwir: 1 – 7)
Wahai manusia, ini berarti bahwa akhir kehidupan di alam semesta ini akan terjadidengan suatu peristiwa yang maha dahsyat. Hari kiamat itu,”Tidak akan dating kepada kalian melainkan dengan tiba-tiba.” (Al A’raf: 187)Ia akan dating pada waktu yang dikehendaki dan ditetapkan olehNya. Ketika itu benda-benda alam berbaur satu sama lain. Dan ternyata, ilmu pengetahuan juga mengatakan demikian.
Semua ini berarti bahwa berita tentang alam semesta dalam Al Qur’anul Karim tidak bertentangan dengan informasi ilmu pengetahuan dalam menyatakan suatu hakikat. Bahkan tidak hanya itu, Al Qur’an tidak menghendaki akal manusia berhenti sampai di sini, tetapi memerintahkannya agar menjelajahi alam semesta ini. “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit.” (Al Isra’:85) “Dan katakanlah,’Wahai Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu penetahuan.’ (Thaha:114)
KESIMPULAN
Hendaklah kita mengetahui bahwa kitab Allah menganjurkan kepada kita untuk memperhatikan alam semesta dan kita diperintahkan untuk
1. merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta yang disebutkan dalam kitab Allah swt.
2. kita tidak berusaha memaksa Al Qur’an mengikuti penafsiran-penafsiran ilmiah atau memaksanya agar tidak bertentangan dengan kesimpulan penelitian-penelitian. Kita harus mengetahui bahwa Al Qur’an tidak akan bertentangan dengan fakta ilmiah yang sudah pasti.
3. ilmu yang berhasil diketahui oleh para ilmuwan hanyalah sedikit dari sekian banyak ilmu. Dihadapan mereka masih terbentang fase-fase perkembangan ilmu pengetahuan yang luas sekali sebelum mereka mengetahui sebagian dari hakikat-hakikat ilmiah itu, bukan keseluruhannya. Karena itu tidak dibenarkan bila kita menolak keterangan Al Qur’an berdasarkan sebagian ilmu pengetahuan yang telah mereka ketahui.
4. Al Qur’an memiliki perbedaan disbanding kitab-kitab sebelumnya, yang ia menjadikan perhatian kepada alam semesta sebagai salah satu sumber-sumber keimanan. Al Qur’an memberikan kebebasan yang luas untuk melakukan penelitian, kajian, perhatian, dan observasi.
Demikianlah makalah singkat ini yang dapat saya sampaikan, saya memohon ampunan kepada Allah, untuk diri saya pribadi dan untuk anda sekalian. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Sayidina Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya. Jazakallah khairan katsiran. Wassalamu’alaikum.wr. wb.
Minggu, 24 Januari 2010
Tarbiyah Islamiyah
URGENSI TARBIYAH ISLAMIYAH DALAM KEHIDUPAN
Bismillahirohmanirohim
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan langit dan bumi, Tuhan semesta alam. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad saw yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga kepada keluarga, sahabat, serta orang-orang yang menapaki jalannya dan berpegang teguh kepada sunah-sunahnya hingga akhir zaman.
Perubahan adalah sesuatu yang harus dilakukan dalam kehidupan umat manusia, terutama dalam diri seorang yang masih mengakui dirinya sebagai seorang muslim. Berbagai studi dan teori dilakukan oleh manusia baik itu di dunia barat maupun di dunia timur, bahwa untuk suatu perubahan tidak hanya dibutuhkan sarana dan prasarana yang lengkap maupun management yang mantap. Tetapi semua sepakat baik masyarakat barat maupun timur bahwa perubahan yang paling penting, utama dan mendasar adalah perubahan dalam diri pribadi manusia itu sendiri, seperti dalam QS Ar- Ra’d ayat 11 “ Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia” Perubahan itu akan terjadi manakala kita malakukan Tarbiyah Islamiyah (pendidikan keIslaman) pada diri pribadi kita masing-masing.
Kalau kita kilas balik kesejarah zaman Nabi Ibrahim as bersama putranya Nabi Ismail as waktu mereka berdua hendak membangun Ka’bah beliau Nabi Ibrahim berdo’a seperti tertulis dalam QS Al Baqoroh ayat 192 “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”
Do’a Nabi Ibrahim as dijawab oleh Allah dengan diutusnya Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul yang terakhir, seperti dalam QS Al Jumu’ah ayat 62 “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. Kalau kita perhatikan ayat tersebut agar kita terhindar dari kesesatan yang nyata, maka tarbiyah memiliki tiga tahapan, yaitu , Tilawah (membaca), Menyucikan, dan Mengajarkan pedoman.
Kenapa tarbiyah islamiyah itu penting ?
Seperti kita ketahui bahwa maksud diciptakannya manusia oleh Allah hanyalah satu hal, yaitu beribadah kepada Allah, seperti dalam QS Adz Dzaariyaat ayat 56 “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi(beribadah) kepada-Ku”. Agar manusia dalam kehidupannya di dunia bermakna ibadah maka manusia harus selalu menyandarkan tuntunan hidupnya pada Islam secara kaffah, dan bagaimana manusia dapat merefleksikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup dalam mengarungi kehidupannya di dunia ini. Tapi pada kenyataannya sekarang ini manusia, khususnya mayoritas umat Islam berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, jauh dari tuntunan Islam, sehingga yang tampak adalah bahwa umat Islam itu bodoh, hina, lemah, miskin, berpecah belah, dan tidak punya kebanggaan pada Islam.
Tarbiyah memiliki urgensi yang tiada taranya, sejak amal islami digelar pada masa-masa awalnya, kita telah memahami bahwa langkah yang paling efektif untuk proses perbaikan adalah pembinaan pribadi sesuai dengan nilai-nilai Islam dan sistemnya untuk mengantarkannya kepada suatu tujuan, yaitu masyarakat muslim, lalu umat muslim, kemudian Negara Islam yang menegakkan syariat Allah
Tarbiyah memiliki pengertian, cara ideal dalam berinteraksi dengan fitrah manusia, baik secara langsung (berupa kata-kata) maupun secara tidak langsung (berupa keteladanan, sesuai dengan sistemmdan perangkatnya yang khas), untuk memproses perubahan dalam diri manusia menuju kondisi yang lebih baik.
Hasan Al Banna bersama Ikhwanul Muslimin yang didirikannya pada tahun 1928 mencanangkan idealisme yang demikian tinggi, tertegaknya kembali kejayaan Islam. Tapi untuk menuju kesana kita punya satu modal, yaitu pemuda. Maka tidak ada yang bisa dilakukan kecuali mentarbiyah mereka, sampai akhirnya tarbiyah menjadi jargon utama dan semacam “trade mark” bagi Jamaah Ikhwanul Muslimin. Tarbiyah Ikhwanul Muslimin lahir dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, menapaktilasi perjalanan sahabat dan tabi’in, serta mengambil suri teladan dari manusia teladan yang ma’shum Muhammad saw, sepak terjang para pembaharu yang shalih, dan para tokoh Islam sepanjang sejarah. Imam Syahid Hasan Al Banna telah menggariskan bahwa tahapan aktivitas dalam Ikhwanul Muslimin ada tiga, yaitu ta’rif (pengenalan), takwin (pembinaan), serta tanfizh (pelaksanaan) dan setiap tahapan itu akan tegak hanya dengan tarbiyah. Oleh karena itu memberi perhatian yang khusus kepadanya dan menjadikannya sebagai prioritas utama disegenap kegiatannya, bahkan menjadikannya sebagai aktifitas yang kontinyu, tidak berhenti di tahapan manapun dari tahapan-tahapan sejarahnya. Hal ini seringkali sampai memancing komentar orang luar ’Tarbiyah bukanlah segala-galanya, dengan tarbiyah saja kita takkan bisa meraih kemenangan” yang kemudian dijawab oleh salah seorang tokoh Ikhwanul Muslimin, DR. Musthafa Mansyur “Tarbiyah memang bukan segala-galanya, tetapi segala-galanya takkan bisa diraih kecuali melalui tarbiyah”.
Tarbiyah Islamiyah sebagaimana sudah disebutkan di muka, berarti proses mempersiapkan orang dengan persiapan yang menyentuh seluruh aspek kehidupannya, meliputi ruhani, jasmani dan akal pikiran. Demikian juaga dengan dengan kehidupan duniawinya, dengan segenap aspek hubungan dan kemaslahatan yang mengikatnya, serta kehidupan akhiratnya dengan segala amalan yang dihisapnya, yang membuat Allah ridha atau murka. Oleh karana itu tarbiyah bersifat integral dan komprehensif, dan itulah yang membedakan antara sistem Islam dengan sistem atau aturan manapun. Sistem Islam mencakup seluruh aspek kehidupan itu dengan cakupan yang rinci dan detil


